Chapter I
How I know you..
How I know you..
Maret 2016
07.25
pm
Aku
baru saja berangkat dari rumah menuju Bandara untuk menjemput sepupu dekatku
yang pulang dari luar negeri. Dia baru menikmati liburannya setelah hampir dua
tahun tidak pulang ke Indonesia demi studi yang harus dijalankannya di salah
satu Universitas ternama di Australia. Rasa lelah menyelimuti seluruh tubuhku
akibat macet yang luar biasa di jalan tol, dan aku harus berjam-jam duduk di
mobil hingga sampai di Bandara. Sesampainya di Bandara aku langsung mencari
tempat parkir yang terdekat agar tidak perlu kami berjalan jauh nantinya.
Langsung aku menuju kearah pamflet bertuliskan “Kedatangan Luar Negeri” yang
aku yakin dia pasti akan keluar dari balik pintu yang tergeser otomatis itu.
Berjam-jam aku kembali duduk sambil mendengarkan mp3ku. Lagu Love Your Self nya Justin Bieber pun
mengalun di telingaku. Ketika mendengar lagu ini, seketika jantungku terasa
sesak dan tiba-tiba teringat kenanganku bersamanya dulu, sekitar 2 tahun silam.
“Hmmpppphh
haaahhhhhh,,, bodohnya aku,,,” akupun berusaha menarik nafas dan menggumam
mencoba menyadarkan diriku sendiri atas lamunanku sambil memejamkan mata dan
tertunduk mencoba menyapu bersih semua kenangan lama itu.
“Heh,
awas sobek gendang telingamu asik pake headset
aja” sebuah suara mengagetkanku. Ketika aku menoleh kebelakang ternyata
sepupuku itu telah tiba.
“Oh,
uda sampe?” jawabku sekenanya.
“Hey,
apa kau tidak merindukanku? Setelah bertahun-tahun gak jumpa dan komunikasi
hanya lewat video call, kau masih
tidak merindukanku sama sekali? Tidakkah kau mau memeluk sepupumu yang super
duper cantik ini ha?” panjang kali lebar kali tinggi dia merepet di depanku.
Sambil
melepas headset ku aku mulai
memeluknya “heh gausah peke marah-marah berapa bayarnya ha?” aku membela diri.
Kulihat
wajahnya, dan kamipun tertawa bersamaan. Ayu, Sandra Ayu Purwaningsih
lengkapnya adalah sepupuku yang paling dekat, sepupu yang paling aku sayangi
dari aku kecil hingga saat ini. Kami sudah seperti saudara kembar karena dimana
ada aku selalu ada dia, sampai dia harus melanjutkan studinya di luar negeri. Banyak
rahasiaku terbagi dengannya, begitu juga dengan dirinya. Dan tentunya ada
rahasiaku yang tidak dia ketahui, dan mungkin ada juga rahasianya yang pasti
tidak aku ketahui. Karena setiap manusia pasti memiliki setidaknya satu buah
rahasia yang siapapun tidak boleh tahu, kalau bisa Tuhan sekalipun.
Diperjalanan
dia cerita semua pengalamannya dan aku hanya menanggapi sekenanya karena rasa
kantukku yang mulai menyerang namun aku harus tetap fokus menyetir. Kulirik jam
tanganku sudah menunjukkan pukul 10.30 pm. Kulihat Ayu sudah mulai tertidur,
mungkin dia kelelahan tambah lagi ceritanya tidak terlalu ku gubris. Langsung kupacu mobilku lebih
cepat lagi agar bisa segera sampai rumahnya.
Setelah
mengantar Ayu, akupun bergegas pulang kerumahku yang berjarak 20 menit dari
rumahnya. Pukul 11.25 pm aku memarkirkan mobilku di garasi. Langsung aku menuju
kamarku untuk ganti baju dan bersiap istirahat. Namun, entah kenapa aku ingin
mengunjungi dunia mayaku sekelak,
ketika melihat wall ku dalam sekejap
hilang semua rasa lelahku ketika melihat di namanya terdapat tanda hijau
pertanda dirinya sedang on juga.
Sangat senang walaupun hanya melihat namanya saja, sangat senang walau hanya
melihat fotonya saja, bahkan sangat senang jika aku bisa menerima pesannya dan
mendengarkan suaranya. Yah, aku tau ini salah, jika orang lain tau pasti mereka
juga akan melarang perasaan ini, bahkan Tuhan pun pasti akan melarang adanya
perasaan ini. Tapi sungguh, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Tepat
bulan Agustus 2013 diawal pertemuan itu seluruh tubuhku tertuju padanya.
Meskipun di pertengahan jalan aku berusaha semampuku untuk menghilangkan perasaan
itu.
FLASHBACK
Agustus
2013 (Silam)
Hari
yang paling ditunggu para mahasiswa barupun dimulai, yaitu hari pertama masuk
kuliah, hari pertama kali menyandang status resmi sebagai mahasiswa setelah melewati
kegiatan PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru). Ya, hari ini kami di wajibkan untuk
bisa menghafal semua nama teman satu kelas kami, dan kericuhan pun di mulai.
“halo
kenalin aku Anisa Wulandari, panggil aja Nisa nama kamu siapa?” seorang cewek
tiba-tiba berdiri di sampingku sambil mengulurkan tangannya dengan tujuan untuk
berkenalan. Cukup cantik, dengan balutan hijab warna biru donkernya, di tambah kemeja,
jeans, dan ketsnya dengan warna senada ditambah lagi lesung pipi dan gingsul di
giginya. Wah, dia cantik pikirku
“oh,
halo aku Dinda, Dinda Nur Khasanah. Salam kenal Nisa” kataku membalas sapaannya
sambil berusaha tersenyum manis biar gak kalah cantik sama dia.
“halo
aku ridho” suara dari sudut belakangku
“haii
aku rangga” suara dari samping kananku
“aku
dimas” suara dari atasku
“Aku
ratna” suara dari bawahku
“Aku
putri” suara dari alam qalbu ku
“aku...”
“aku...” “aku...” suara yang entah dari mana-mana. Otakku serasa mulai berputar
dengan keriuhan ini karena semua sibuk dengan urusan masing-masing untuk saling
berkenalan. Akupun merasa jenuh dan risih dengan situasi itu dan akhirnya
memutuskan untuk izin ke senior keluar dengan alasan ingin buang air kecil.
Pada saat itu kami masih harus di pantau oleh senior kami karena status kami
yang masih sebagai mahasiswa baru. Setelah mendapat izin aku pun berjalan
dengan santainya berusaha menikmati sedikit ketenangan di luar ruangan itu
sambil menuju kearah toilet. Sesampainya di persimpangan ke arah toilet aku di
kejutkan oleh seseorang yang tampaknya terburu-buru.
“eh
maaf ya” katanya sambil tersenyum.
Akupun
hanya terdiam melihat ekspresinya. Sambil melewatiku dia hanya terus berlarian
menuju arah yang berlawanan denganku, dan aku hanya melihat punggungnya saja
yang meninggalkanku. Dalam waktu singkat dia berhasil menarik perhatianku dan
membuatku penasaran akan dirinya
“Siapa
dia?”
Setelah
berleha-leha di luar aku pun segera kembali masuk ke dalam kelas takut kena sembur sama senior yang galaknya luar
biasa. Sambil melangkah ke arah kursiku, sebuah pemandangan yang tak asing
menyapaku. Ya, aku melihatnya lagi di dalam ruangan itu dan ternyata dia juga
mahasiswa baru di jurusan ini. Dia berada tidak jauh dari tempat aku duduk,
hanya berjarak empat kursi saja. Dari tempat aku duduk aku hanya mampu
memandang bagian belakang tubuhnya. Setelah senior kami cuap-cuap kami pun
keluar untuk istirahat makan siang dan akan malanjut ke jadwal kuliah
berikutnya.
O
iya mungkin kalian bertanya-tanya dipertengahan cerita tadi aku menyebutkan
awal masuk kuliah, tapi kenapa yang masuk malah senior dan bukan dosen, yakan?
Yah walaupun di kalender seharusnya ini sudah masuk kegiatan kuliah, tapi
jurusan kami belum aktif menjalankan kegiatan perkuliahan karena jadwal yang
masih banyak bentrok jadi dosen masih enggan untuk hadir dan memberi
pertuah-petuahnya kepada kami. Oleh karena itu situasi ini di manfaatkan senior
kami untuk menggembleng kami menjadi insan yang bermartabat.
“Heyy,
melamun aja kau” sebuah tepukan mendarat di pundakku.
Dan
hal yang paling mengejutkanku hingga membuatku terdiam cukup lama adalah “siapa”
yang mengejutkanku itu. Yah, dia adalah orang yang tadi. Orang yang berpapasan
denganku saat ke toilet tadi.
“eh,
enggak kok gak melamun” jawabku sekenanya.
“kami
boleh gabung makan siang disini?” si Reza mulai mengutarakan maksud
kedatangannya.
“iya
boleh lah” jawabku dengan senang hati.
Dalam
cerita ini, cerita yang penuh dengan kerahasiaan, cerita yang kalau bisa hanya
aku dan Tuhan saja yang boleh tahu, dan cerita yang kalau bisa akan aku simpan
sampai akhir hayatku.
To
be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar