Jumat, 29 Juli 2016

Love on Secret (Chapter I)


Chapter I
How I know you..

Maret 2016
07.25 pm
Aku baru saja berangkat dari rumah menuju Bandara untuk menjemput sepupu dekatku yang pulang dari luar negeri. Dia baru menikmati liburannya setelah hampir dua tahun tidak pulang ke Indonesia demi studi yang harus dijalankannya di salah satu Universitas ternama di Australia. Rasa lelah menyelimuti seluruh tubuhku akibat macet yang luar biasa di jalan tol, dan aku harus berjam-jam duduk di mobil hingga sampai di Bandara. Sesampainya di Bandara aku langsung mencari tempat parkir yang terdekat agar tidak perlu kami berjalan jauh nantinya. Langsung aku menuju kearah pamflet bertuliskan “Kedatangan Luar Negeri” yang aku yakin dia pasti akan keluar dari balik pintu yang tergeser otomatis itu. Berjam-jam aku kembali duduk sambil mendengarkan mp3ku. Lagu Love Your Self nya Justin Bieber pun mengalun di telingaku. Ketika mendengar lagu ini, seketika jantungku terasa sesak dan tiba-tiba teringat kenanganku bersamanya dulu, sekitar 2 tahun silam.
“Hmmpppphh haaahhhhhh,,, bodohnya aku,,,” akupun berusaha menarik nafas dan menggumam mencoba menyadarkan diriku sendiri atas lamunanku sambil memejamkan mata dan tertunduk mencoba menyapu bersih semua kenangan lama itu.
“Heh, awas sobek gendang telingamu asik pake headset aja” sebuah suara mengagetkanku. Ketika aku menoleh kebelakang ternyata sepupuku itu telah tiba.
“Oh, uda sampe?” jawabku sekenanya.
“Hey, apa kau tidak merindukanku? Setelah bertahun-tahun gak jumpa dan komunikasi hanya lewat video call, kau masih tidak merindukanku sama sekali? Tidakkah kau mau memeluk sepupumu yang super duper cantik ini ha?” panjang kali lebar kali tinggi dia merepet di depanku.
Sambil melepas headset ku aku mulai memeluknya “heh gausah peke marah-marah berapa bayarnya ha?” aku membela diri.
Kulihat wajahnya, dan kamipun tertawa bersamaan. Ayu, Sandra Ayu Purwaningsih lengkapnya adalah sepupuku yang paling dekat, sepupu yang paling aku sayangi dari aku kecil hingga saat ini. Kami sudah seperti saudara kembar karena dimana ada aku selalu ada dia, sampai dia harus melanjutkan studinya di luar negeri. Banyak rahasiaku terbagi dengannya, begitu juga dengan dirinya. Dan tentunya ada rahasiaku yang tidak dia ketahui, dan mungkin ada juga rahasianya yang pasti tidak aku ketahui. Karena setiap manusia pasti memiliki setidaknya satu buah rahasia yang siapapun tidak boleh tahu, kalau bisa Tuhan sekalipun.
Diperjalanan dia cerita semua pengalamannya dan aku hanya menanggapi sekenanya karena rasa kantukku yang mulai menyerang namun aku harus tetap fokus menyetir. Kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.30 pm. Kulihat Ayu sudah mulai tertidur, mungkin dia kelelahan tambah lagi ceritanya tidak terlalu ku gubris. Langsung kupacu mobilku lebih cepat lagi agar bisa segera sampai rumahnya.
Setelah mengantar Ayu, akupun bergegas pulang kerumahku yang berjarak 20 menit dari rumahnya. Pukul 11.25 pm aku memarkirkan mobilku di garasi. Langsung aku menuju kamarku untuk ganti baju dan bersiap istirahat. Namun, entah kenapa aku ingin mengunjungi dunia mayaku sekelak, ketika melihat wall ku dalam sekejap hilang semua rasa lelahku ketika melihat di namanya terdapat tanda hijau pertanda dirinya sedang on juga. Sangat senang walaupun hanya melihat namanya saja, sangat senang walau hanya melihat fotonya saja, bahkan sangat senang jika aku bisa menerima pesannya dan mendengarkan suaranya. Yah, aku tau ini salah, jika orang lain tau pasti mereka juga akan melarang perasaan ini, bahkan Tuhan pun pasti akan melarang adanya perasaan ini. Tapi sungguh, aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Tepat bulan Agustus 2013 diawal pertemuan itu seluruh tubuhku tertuju padanya. Meskipun di pertengahan jalan aku berusaha semampuku untuk menghilangkan perasaan itu.

FLASHBACK
Agustus 2013 (Silam)
Hari yang paling ditunggu para mahasiswa barupun dimulai, yaitu hari pertama masuk kuliah, hari pertama kali menyandang status resmi sebagai mahasiswa setelah melewati kegiatan PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru). Ya, hari ini kami di wajibkan untuk bisa menghafal semua nama teman satu kelas kami, dan kericuhan pun di mulai.
“halo kenalin aku Anisa Wulandari, panggil aja Nisa nama kamu siapa?” seorang cewek tiba-tiba berdiri di sampingku sambil mengulurkan tangannya dengan tujuan untuk berkenalan. Cukup cantik, dengan balutan hijab warna biru donkernya, di tambah kemeja, jeans, dan ketsnya dengan warna senada ditambah lagi lesung pipi dan gingsul di giginya. Wah, dia cantik pikirku
“oh, halo aku Dinda, Dinda Nur Khasanah. Salam kenal Nisa” kataku membalas sapaannya sambil berusaha tersenyum manis biar gak kalah cantik sama dia.
“halo aku ridho” suara dari sudut belakangku
“haii aku rangga” suara dari samping kananku
“aku dimas” suara dari atasku
“Aku ratna” suara dari bawahku
“Aku putri” suara dari alam qalbu ku
“aku...” “aku...” “aku...” suara yang entah dari mana-mana. Otakku serasa mulai berputar dengan keriuhan ini karena semua sibuk dengan urusan masing-masing untuk saling berkenalan. Akupun merasa jenuh dan risih dengan situasi itu dan akhirnya memutuskan untuk izin ke senior keluar dengan alasan ingin buang air kecil. Pada saat itu kami masih harus di pantau oleh senior kami karena status kami yang masih sebagai mahasiswa baru. Setelah mendapat izin aku pun berjalan dengan santainya berusaha menikmati sedikit ketenangan di luar ruangan itu sambil menuju kearah toilet. Sesampainya di persimpangan ke arah toilet aku di kejutkan oleh seseorang yang tampaknya terburu-buru.
“eh maaf ya” katanya sambil tersenyum.
Akupun hanya terdiam melihat ekspresinya. Sambil melewatiku dia hanya terus berlarian menuju arah yang berlawanan denganku, dan aku hanya melihat punggungnya saja yang meninggalkanku. Dalam waktu singkat dia berhasil menarik perhatianku dan membuatku penasaran akan dirinya
“Siapa dia?”
Setelah berleha-leha di luar aku pun segera kembali masuk ke dalam kelas takut kena sembur sama senior yang galaknya luar biasa. Sambil melangkah ke arah kursiku, sebuah pemandangan yang tak asing menyapaku. Ya, aku melihatnya lagi di dalam ruangan itu dan ternyata dia juga mahasiswa baru di jurusan ini. Dia berada tidak jauh dari tempat aku duduk, hanya berjarak empat kursi saja. Dari tempat aku duduk aku hanya mampu memandang bagian belakang tubuhnya. Setelah senior kami cuap-cuap kami pun keluar untuk istirahat makan siang dan akan malanjut ke jadwal kuliah berikutnya.
O iya mungkin kalian bertanya-tanya dipertengahan cerita tadi aku menyebutkan awal masuk kuliah, tapi kenapa yang masuk malah senior dan bukan dosen, yakan? Yah walaupun di kalender seharusnya ini sudah masuk kegiatan kuliah, tapi jurusan kami belum aktif menjalankan kegiatan perkuliahan karena jadwal yang masih banyak bentrok jadi dosen masih enggan untuk hadir dan memberi pertuah-petuahnya kepada kami. Oleh karena itu situasi ini di manfaatkan senior kami untuk menggembleng kami menjadi insan yang bermartabat.
“Heyy, melamun aja kau” sebuah tepukan mendarat di pundakku.
Dan hal yang paling mengejutkanku hingga membuatku terdiam cukup lama adalah “siapa” yang mengejutkanku itu. Yah, dia adalah orang yang tadi. Orang yang berpapasan denganku saat ke toilet tadi.
“eh, enggak kok gak melamun” jawabku sekenanya.
“kami boleh gabung makan siang disini?” si Reza mulai mengutarakan maksud kedatangannya.
“iya boleh lah” jawabku dengan senang hati.
Dalam cerita ini, cerita yang penuh dengan kerahasiaan, cerita yang kalau bisa hanya aku dan Tuhan saja yang boleh tahu, dan cerita yang kalau bisa akan aku simpan sampai akhir hayatku.
To be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar