Jumat, 29 Juli 2016

Love on Secret (Chapter III)


Chapter III
Kau kenapa?

Tok..tok..tok...
“Permisi pak boleh saya masuk?”
Seseorang berdiri di depan pintu. Semua mata pun tertuju padanya. Padahal sesaat sebelumnya semua tertuju pada Pak Didi dosen Kalkulus yang sedang bercerita sejarah kehidupannya. Biasalah, diawal masuk kuliah pasti para dosen masih melakukan perkenalan dengan mahasiswa yang baru dikenalnya. Jangankan di bangku kuliah, bangku SMA pun sama halnya.
“Kamu kenapa terlambat?” tanya pak Didi
“maaf pak, tadi ada urusan mendadak” Jawab pria yang masih berdiri di depan pintu itu.
“Yasudah, silahkan masuk. Kali ini Bapak maafkan. Dengar semuanya, saya tidak mentolerir yang namanya keterlambatan ya. Mau itu terlambat 10 menit, 5 menit, bahkan 2 detik sekalipun. Kecuali dengan alasan yang jelas dan masuk akal baru saya izinkan masuk. Paham semuanya?” Jelas Pak Didi.
“Paham pak...” satu kelas serentak menjawab pertanyaan Pak Didi.
“Baik mungkin sampai disini saja untuk hari ini,, kita berjumpa lagi lusa dan selamat siang”
“Siang pak...” semua kembali menjawab salam Pak Didi.

Yoga berjalan sambil memegang perutnya menuju kearahku dan Reza. Brakk.. dia duduk menghempaskan tubuhnya ke bangku di sebelahku.
“Heh, kok wajahmu pucat? Kau kenapa? Sakit?” tanyaku mencoba memperjelas keadaannya.
“Ciyee,, khawatir niyee,,, ciyee peduli niyeee” Reza mencoba mengejekku sambil memasukkan bukunya kedalam ransel.
Plaakkk,, sebuah pukulan kulayangkan ke kepalanya.
“Aiishh,, kau memang perempuan yang kasar. Sakit bodoh!! Eh, tapi benar kau pucat dan berkeringat, apa kau baik-baik saja?” Reza juga mulai khawatir pada keadaannya.
“Aku... gak apa-apa,, Cuma sedikit sakit perutku. Apa kita ada kuliah lagi?” Jelasnya sambil tertunduk lemas.
“Enggak, gak ada lagi. Tadi kuliah kita yang terakhir. Sebaiknya kau pulang” Jawabku.
“Baiklah kalo gitu aku duluan ya”
Diapun berjalan meninggalkan kami yang masih riuh mengobrol di dalam kelas. Sungguh demi apapun aku menghawatirkannya. Dia sebenarnya kenapa ya? Apa dia baik-baik saja? Atau aku ikut mengantarnya pulang saja ya? Pikiranku mulai kacau. Aku bingung harus bagaimana membantunya.
“Kalau memang sebegitu perhatiannya dan khawatir, anterin aja dia pulang sana” Tiba-tiba suara Reza muncul di telingaku.
“Susah ya punya teman yang benar-benar bisa baca pikiran orang. Susah mau jaga rahasia. Huuhhh. Tapi apa menurutmu dia baik-baik saja?”
“iya, tentu saja dia akan baik-baik saja. Waktu SMA dia dulu juga pernah kayak gitu” Reza mencoba menenangkanku.
“ooh,,, Ha? Waktu SMA kau bilang?” Aku kaget mendengar penjelasan Reza tadi.
“Iya, waktu SMA. Kenapa? Kau kaget kalau kami satu SMA dulu? Kami uda bareng dari SMP bahkan. Makanya aku uda kenal betul luar dalamnya dia” Jelas Reza
“Ha? Luar? Dalam? maksudmu....” tiba-tiba aku berfikir erotis.
“Bukan begitu bodoh. Kau ini bukan Cuma kurang ajar, bodoh, tapi juga mesum ya. Maksudku itu sifat dia, kebiasaan dia kayak gitulah.” Dia mencaciku.
“Aku gak ada berfikir mesum ya” Aku mencoba membela diri.
“Masih mau berbohong samaku ha?” ancam Reza sambil melotot.
Aku diam saja. Ketika aku akan bangkit dari bangku kulihat Dia masih berdiri di depan pintu berbicara dengan seseorang yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Dia. Seketika aku langsung berlari menuju kearahnya, dan ku dengar.
“Mau ngapai kau pulang ha? Masuk dulu, kita mau ngobrol-ngobrol dulu di dalam. Jadi ga boleh ada satupun yang keluar dari kelas” Teriak seseorang itu, yang ternyata adalah senior kami Bang Yuda.
Dia adalah orang yang sangat aku benci. Waktu PMB dulu aku pernah diangkatnya dan hampir dimasukkan ke selokan sisa pembuangan toilet fakultas karena aku melawannya.

FLASHBACK
Saat kegiatan PMB
“Hey kau, gadis berwajah aneh sini dulu” Teriak seorang senior yang aku tidak kenal.
“huuhh...Iya, kenapa bang?” Aku mendengus malas sambil berdiri.
“Pijit dulu kakiku. Pegal ini berdiri aja dari tadi ngeliatin muka-muka kalian yang aneh-aneh ini” Pintanya.
“Suruh siapa abang berdiri? Dan suruh siapa abang ngeliatin muka kami?” Jawabku sedikit melawan.
“Heh! Dasar anak kurang ajar. Melawan kau ya! Ha!!” Sambil teriak dia mengangkat tubuhku dan membawaku kearah selokan air yang sumpah itu sangat kotor, bahkan airnya saja hitam.
“Heyy!! Apa-apaan ini!! Turunin aku!! Cepattt!!!” Teriakku sambil memukul mukul punggungnya
“Minta ampun dulu baru kuturunin, atau ku lempar kau kesolakan yang paling jernih di kampus kita ini ya!!” Teriaknya sambil bersiap untuk melemparkanku.
“Sial!! Ampun bang ampun, aku minta maaf kalau udah kasar. Kalau abang turunin aku, aku janji bakal pijitin kakimu bang. Janji!” Bujukku.
“Kau janji? Kau janji akan mulai berbicara sopan pada seniormu? Kau janji tidak akan meninggikan suaramu pada seniormu bagaimanapun situasinya ha? Kau bisa janjikan itu?” Bertubi-tubi dia melayangkan pertanyaan padaku.
“Iya bang, aku janji” Jawabku
“bilang dulu, Saya habis itu sebutin namamu, akan berjanji gak akan bersikap kurang ajar lagi dan akan berbicara sopan pada senior apapun situasinya. Yang kuat ya, sampe temen-temen mabamu yang lain dengar” Pintanya sambil masih mengarahkan tubuhku kearah selokan terkutuk itu.
“Saya Dinda Nur Khasanah akan berjanji gak akan bersikap kurang ajar lagi dan akan berbicara sopan pada senior apapun situasinya!!!” Teriakku sekencang-kencangnya di dekat telinganya. Waktu itu berakhir dengan aku memijat kakinya seharian.

BACK
“Maaf bang, mau ada apa ya?” Tanyaku sama bang Yuda berusaha sesopan mungkin.
“eh,, ada Dinda si anak kurang ajar. Ini Dinda kawanmu mau pulang, padahal kami mau ngobrol-ngobrol sama kalian semuanya. Coba kau bujuk dia biar dia ikutan ngobrol-ngobrol” Pinta bang Yuda.
“Begini bang, tidakkah abang liat dia udah pucat begini? Keringat dimana-mana? Dari tadi dia uda menahan sakit perutnya. Nanti semisalnya dia ikut terus mati didalam abang mau tanggung jawab? Tiba-tiba di koran muncul Seorang mahasiswa baru mati di kelas akibat ngobrol-ngobrol dengan seniornya. Apa abang mau terjadi hal kayak gitu?” Ceritaku panjang lebar agar bang Yuda mau mengijinkannya pulang. 
Dia melotot kearahku “Mati?” bisiknya
“ssttt,, diem aja,,” ku senggol-senggol lengannya.
“Ah, benar juga. Yasudahlah pulang sana. Kau yang mengantar ya Dinda”
“eh, kenapa harus aku bang? Banyak itu temen-temen yang lainnya” Protesku, karena takut kalau sempat berduaan sama Dia bisa pingsan aku nanti. Saat kulirik Dia sudah tertunduk dari tadi, dan keringat mengucur dari lengannya yang putih itu.
“Kau tidak mau? Nanti kalau muncul di koran Seorang mahasiswa mati dijalan akibat temannya tidak mau mengantar dia pulang. Kau mau jadi tersangkanya ha?” Bang Yuda mencoba membalikkan kalimatku sebelumnya.
“Ah, salah aja aku ya bang. Ya sudah, kami pergi dulu ya bang” buru-buru aku menggeret lengannya yang sudah basah dan berjalan menuju parkiran. Meninggalkan senior-senior gila itu.

Diperjalanan menuju parkiran mobil
“Apa menurutmu mereka benar-benar mau mengobrol?” Tanyanya padaku.
“Apa kau pikir begitu? Tentu saja tidak, pasti mereka mau membentak habis-habisan yang didalam sana” Jawabku.
Sungguh demi Rihana yang nyanyi Payung-payung, jantungku berdegup sangat cepat sekarang. Aku seperti mau pingsan. Lengannya sedang ku pegangi sekarang, dan tubuh kami sangat dekat. Ya ampun sampai kapan aku bakal kayak gini ya. Kami pun sampai di parkiran. Dia mengeluarkan kunci mobilnya dan mulai membukanya. Honda mobilio itupun terbuka dan aku memapah dia masuk kedalam.
“Sini aku aja yang nyetir, nanti kau pingsan” Pintaku
“Kau bisa menyetir mobil?” dia terkejut.
“Iyah tentu saja, jangan meremehkanku ya haha” aku tertawa peuh kebanggaan.
Aku mulai melajukan mobil menuju rumahnya. Belum sempat aku menanyakan rumahnya dimana kulihat ke samping kiriku Dia sudah tersandar lemas dengan keringat yang semakin banyak dan nafas yang tersengal.
“Hey,, bangun,, kita ke rumah sakit aja ya,, jangan pingsan dulu,,”
Rasa panik gak karuan menyelimuti seluruh tubuhku, aku gak terlalu tahu kota ini. Yang ada di otakku hanya Rumah Sakit.... Rumah Sakit... dan Rumah Sakit.. Seketika aku melihat Rumah Sakit yang cukup besar bertulisakan “Rumah Sakit Bina Husada”. Langsung aku membanting setir mencari tempat parkir mobilnya.
“UGD,,,tolong,,, mbak suster tolong temen saya di mobil sedang kritis” Teriakku memanggil seorang suster yang baru keluar dari UGD.
Dia langsung di bawa menuju ke UGD oleh dokter dan suster yang ada disana. Sayangnya aku tidak di izinkan masuk kedalam untuk memastikan keadaannya. Ya ampun, kau kenapa sih.....
To be continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar