Chapter III
Kau kenapa?
Tok..tok..tok...
“Permisi pak boleh saya
masuk?”
Seseorang berdiri di
depan pintu. Semua mata pun tertuju padanya. Padahal sesaat sebelumnya semua
tertuju pada Pak Didi dosen Kalkulus yang sedang bercerita sejarah
kehidupannya. Biasalah, diawal masuk kuliah pasti para dosen masih melakukan
perkenalan dengan mahasiswa yang baru dikenalnya. Jangankan di bangku kuliah,
bangku SMA pun sama halnya.
“Kamu kenapa
terlambat?” tanya pak Didi
“maaf pak, tadi ada
urusan mendadak” Jawab pria yang masih berdiri di depan pintu itu.
“Yasudah, silahkan
masuk. Kali ini Bapak maafkan. Dengar semuanya, saya tidak mentolerir yang
namanya keterlambatan ya. Mau itu terlambat 10 menit, 5 menit, bahkan 2 detik
sekalipun. Kecuali dengan alasan yang jelas dan masuk akal baru saya izinkan
masuk. Paham semuanya?” Jelas Pak Didi.
“Paham pak...” satu
kelas serentak menjawab pertanyaan Pak Didi.
“Baik mungkin sampai
disini saja untuk hari ini,, kita berjumpa lagi lusa dan selamat siang”
“Siang pak...” semua
kembali menjawab salam Pak Didi.
Yoga berjalan sambil
memegang perutnya menuju kearahku dan Reza. Brakk.. dia duduk menghempaskan
tubuhnya ke bangku di sebelahku.
“Heh, kok wajahmu
pucat? Kau kenapa? Sakit?” tanyaku mencoba memperjelas keadaannya.
“Ciyee,, khawatir
niyee,,, ciyee peduli niyeee” Reza mencoba mengejekku sambil memasukkan bukunya
kedalam ransel.
Plaakkk,, sebuah
pukulan kulayangkan ke kepalanya.
“Aiishh,, kau memang
perempuan yang kasar. Sakit bodoh!! Eh, tapi benar kau pucat dan berkeringat,
apa kau baik-baik saja?” Reza juga mulai khawatir pada keadaannya.
“Aku... gak apa-apa,,
Cuma sedikit sakit perutku. Apa kita ada kuliah lagi?” Jelasnya sambil
tertunduk lemas.
“Enggak, gak ada lagi.
Tadi kuliah kita yang terakhir. Sebaiknya kau pulang” Jawabku.
“Baiklah kalo gitu aku
duluan ya”
Diapun berjalan
meninggalkan kami yang masih riuh mengobrol di dalam kelas. Sungguh demi apapun
aku menghawatirkannya. Dia sebenarnya
kenapa ya? Apa dia baik-baik saja? Atau aku ikut mengantarnya pulang saja ya?
Pikiranku mulai kacau. Aku bingung harus bagaimana membantunya.
“Kalau memang sebegitu
perhatiannya dan khawatir, anterin aja dia pulang sana” Tiba-tiba suara Reza
muncul di telingaku.
“Susah ya punya teman
yang benar-benar bisa baca pikiran orang. Susah mau jaga rahasia. Huuhhh. Tapi
apa menurutmu dia baik-baik saja?”
“iya, tentu saja dia
akan baik-baik saja. Waktu SMA dia dulu juga pernah kayak gitu” Reza mencoba
menenangkanku.
“ooh,,, Ha? Waktu SMA
kau bilang?” Aku kaget mendengar penjelasan Reza tadi.
“Iya, waktu SMA.
Kenapa? Kau kaget kalau kami satu SMA dulu? Kami uda bareng dari SMP bahkan.
Makanya aku uda kenal betul luar dalamnya dia” Jelas Reza
“Ha? Luar? Dalam?
maksudmu....” tiba-tiba aku berfikir erotis.
“Bukan begitu bodoh.
Kau ini bukan Cuma kurang ajar, bodoh, tapi juga mesum ya. Maksudku itu sifat
dia, kebiasaan dia kayak gitulah.” Dia mencaciku.
“Aku gak ada berfikir
mesum ya” Aku mencoba membela diri.
“Masih mau berbohong
samaku ha?” ancam Reza sambil melotot.
Aku diam saja. Ketika
aku akan bangkit dari bangku kulihat Dia masih berdiri di depan pintu berbicara
dengan seseorang yang postur tubuhnya lebih tinggi dari Dia. Seketika aku
langsung berlari menuju kearahnya, dan ku dengar.
“Mau ngapai kau pulang
ha? Masuk dulu, kita mau ngobrol-ngobrol dulu di dalam. Jadi ga boleh ada
satupun yang keluar dari kelas” Teriak seseorang itu, yang ternyata adalah
senior kami Bang Yuda.
Dia adalah orang yang
sangat aku benci. Waktu PMB dulu aku pernah diangkatnya dan hampir dimasukkan
ke selokan sisa pembuangan toilet fakultas karena aku melawannya.
FLASHBACK
Saat kegiatan PMB
“Hey kau, gadis
berwajah aneh sini dulu” Teriak seorang senior yang aku tidak kenal.
“huuhh...Iya, kenapa
bang?” Aku mendengus malas sambil berdiri.
“Pijit dulu kakiku.
Pegal ini berdiri aja dari tadi ngeliatin muka-muka kalian yang aneh-aneh ini”
Pintanya.
“Suruh siapa abang
berdiri? Dan suruh siapa abang ngeliatin muka kami?” Jawabku sedikit melawan.
“Heh! Dasar anak kurang
ajar. Melawan kau ya! Ha!!” Sambil teriak dia mengangkat tubuhku dan membawaku
kearah selokan air yang sumpah itu sangat kotor, bahkan airnya saja hitam.
“Heyy!! Apa-apaan ini!!
Turunin aku!! Cepattt!!!” Teriakku sambil memukul mukul punggungnya
“Minta ampun dulu baru
kuturunin, atau ku lempar kau kesolakan yang paling jernih di kampus kita ini
ya!!” Teriaknya sambil bersiap untuk melemparkanku.
“Sial!! Ampun bang
ampun, aku minta maaf kalau udah kasar. Kalau abang turunin aku, aku janji
bakal pijitin kakimu bang. Janji!” Bujukku.
“Kau janji? Kau janji
akan mulai berbicara sopan pada seniormu? Kau janji tidak akan meninggikan
suaramu pada seniormu bagaimanapun situasinya ha? Kau bisa janjikan itu?”
Bertubi-tubi dia melayangkan pertanyaan padaku.
“Iya bang, aku janji”
Jawabku
“bilang dulu, Saya
habis itu sebutin namamu, akan berjanji gak akan bersikap kurang ajar lagi dan
akan berbicara sopan pada senior apapun situasinya. Yang kuat ya, sampe
temen-temen mabamu yang lain dengar” Pintanya sambil masih mengarahkan tubuhku
kearah selokan terkutuk itu.
“Saya Dinda Nur
Khasanah akan berjanji gak akan bersikap kurang ajar lagi dan akan berbicara
sopan pada senior apapun situasinya!!!” Teriakku sekencang-kencangnya di dekat
telinganya. Waktu itu berakhir dengan aku memijat kakinya seharian.
BACK
“Maaf bang, mau ada apa
ya?” Tanyaku sama bang Yuda berusaha sesopan mungkin.
“eh,, ada Dinda si anak
kurang ajar. Ini Dinda kawanmu mau pulang, padahal kami mau ngobrol-ngobrol
sama kalian semuanya. Coba kau bujuk dia biar dia ikutan ngobrol-ngobrol” Pinta
bang Yuda.
“Begini bang, tidakkah
abang liat dia udah pucat begini? Keringat dimana-mana? Dari tadi dia uda
menahan sakit perutnya. Nanti semisalnya dia ikut terus mati didalam abang mau
tanggung jawab? Tiba-tiba di koran muncul Seorang
mahasiswa baru mati di kelas akibat ngobrol-ngobrol dengan seniornya. Apa
abang mau terjadi hal kayak gitu?” Ceritaku panjang lebar agar bang Yuda mau
mengijinkannya pulang.
Dia melotot kearahku
“Mati?” bisiknya
“ssttt,, diem aja,,” ku
senggol-senggol lengannya.
“Ah, benar juga.
Yasudahlah pulang sana. Kau yang mengantar ya Dinda”
“eh, kenapa harus aku
bang? Banyak itu temen-temen yang lainnya” Protesku, karena takut kalau sempat
berduaan sama Dia bisa pingsan aku nanti. Saat kulirik Dia sudah tertunduk dari
tadi, dan keringat mengucur dari lengannya yang putih itu.
“Kau tidak mau? Nanti
kalau muncul di koran Seorang mahasiswa
mati dijalan akibat temannya tidak mau mengantar dia pulang. Kau mau jadi
tersangkanya ha?” Bang Yuda mencoba membalikkan kalimatku sebelumnya.
“Ah, salah aja aku ya
bang. Ya sudah, kami pergi dulu ya bang” buru-buru aku menggeret lengannya yang
sudah basah dan berjalan menuju parkiran. Meninggalkan senior-senior gila itu.
Diperjalanan
menuju parkiran mobil
“Apa menurutmu mereka
benar-benar mau mengobrol?” Tanyanya padaku.
“Apa kau pikir begitu?
Tentu saja tidak, pasti mereka mau membentak habis-habisan yang didalam sana”
Jawabku.
Sungguh demi Rihana
yang nyanyi Payung-payung, jantungku berdegup sangat cepat sekarang. Aku
seperti mau pingsan. Lengannya sedang ku pegangi sekarang, dan tubuh kami
sangat dekat. Ya ampun sampai kapan aku bakal kayak gini ya. Kami pun sampai di
parkiran. Dia mengeluarkan kunci mobilnya dan mulai membukanya. Honda mobilio
itupun terbuka dan aku memapah dia masuk kedalam.
“Sini aku aja yang
nyetir, nanti kau pingsan” Pintaku
“Kau bisa menyetir
mobil?” dia terkejut.
“Iyah tentu saja,
jangan meremehkanku ya haha” aku tertawa peuh kebanggaan.
Aku mulai melajukan
mobil menuju rumahnya. Belum sempat aku menanyakan rumahnya dimana kulihat ke
samping kiriku Dia sudah tersandar lemas dengan keringat yang semakin banyak
dan nafas yang tersengal.
“Hey,, bangun,, kita ke
rumah sakit aja ya,, jangan pingsan dulu,,”
Rasa panik gak karuan
menyelimuti seluruh tubuhku, aku gak terlalu tahu kota ini. Yang ada di otakku
hanya Rumah Sakit.... Rumah Sakit... dan Rumah Sakit.. Seketika aku melihat
Rumah Sakit yang cukup besar bertulisakan “Rumah Sakit Bina Husada”. Langsung
aku membanting setir mencari tempat parkir mobilnya.
“UGD,,,tolong,,, mbak
suster tolong temen saya di mobil sedang kritis” Teriakku memanggil seorang
suster yang baru keluar dari UGD.
Dia langsung di bawa
menuju ke UGD oleh dokter dan suster yang ada disana. Sayangnya aku tidak di
izinkan masuk kedalam untuk memastikan keadaannya. Ya ampun, kau kenapa
sih.....
To be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar