Sabtu, 30 Juli 2016

Love on Secret (Chapter IV)


Chapter IV
Soryy...
Drttt... Getaran handphone mengejutkanku. Aku pun terbangun dan berusaha mencari dimana keberadaan ponselku itu. Ketika ku lihat ternyata panggilan dari Reza.
“Haloo,, assalamualaikum, iya Reza udah dimana?” Tanyaku
Haloo,, waalaikumsalam, ini mau otw kesana Din. Cemana keadaan si Yoga?Kok bisa sampe masuk UGD?Sesak jantung aku baca pesanmu tadi” Terdengar kekhawatiran Reza dari sebrang sana akan sahabatnya.
“Uda gerak kemari aja dulu, nanti aku ceritain semuanya kalau udah sampe sini”
Oke,, ini aku gerak,, Assalamualaikum” Reza mengakhiri percakapan singkat kami.
“iya, hati-hati,,, Waalaikumsalam,,” Ku tutup dengan membalas salamnya.
Kutatap jendela, sekilas terlihat warna langit sudah berubah menjadi jingga padahal terakhir kulihat masih berwarna biru. Kulihat jam digital diatas meja sudah menunjukkan pukul 05.20 pm. Pandangan kualihkan ke wajahnya yang sudah nampak lebih baik dari yang kulihat terakhir kali.
“heyy,, kapan kau mau bangun ha? Kau tahu? Kau hampir membuatku gila, melihatmu pingsan gitu gak sanggup rasanya,, kau tahu apa yang ku rasakan ha? Sebenernya aku...” aku seperti orang gila ngomong sendiri, sampai tiba-tiba.
“apa yang kau rasakan ha?” Suara Yoga mengejutkanku
“Yoga, udah sadar? Cemana perasaanmu? Uda enakan?” Tanyaku penuh khawatir.
“Entah, lemas kali badanku rasanya,, Makasih ya, udah bawa aku ke sini. Kalau gak ada kamu, entah cemana aku udahan..”
“Iya sama-sama. Eh, si Reza lagi di perjalanan kemari. Kamu ada mau nitip sesuatu sama dia?”
“Ah enggak gak usah, lagi ga selera aku makan apa-apa” Dia menolak tawaranku.
“Ohh,, Yoga aku mau nanya, kamu gak ngabarin ayah atau ibumu?”
“Aku tidak mau membahasnya...”
“Tapi, kalau kamu kenapa-kenapa nanti gimana? Namanya orang tua pasti pengen tahu keadaan anaknya Yoga. Kalau kamu gak ada mau ngabarin, cemana orang tua kamu bisa tahu keadaan anaknya” Setelah aku berbicara, ekspresi Yoga berubah drastis.
“Kau..kau tau apa tentang orang tuaku ha?!! Kau tau apa tentang keluargaku ha?!! Kalau gak tau apa-apa gak usah ngomong, gak usah sok dekat, gak usah sok kenal. Kita baru jumpa beberapa hari, apa rupanya yang kau tahu tentangku ha?!! Keluar!!” Yoga membentakku sejadi-jadinya.
“Tapi.. Yoga.. aku..” dengan perasaan takut aku berusaha meredamkan emosinya.
“Kau tidak dengar ha?! Aku bilang keluar ya keluaarr!!!” Bentaknya
Tubuhku rasanya gemetaran dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tak tahu harus bagaimana. Tanpa ku sadari air mataku mengalir. Segera kuambil ransel dan handphone ku, akupun berdiri dan melangkah menuju pintu meninggalkan kamar itu. Kamar yang awalnya penuh dengan aura kekhawatiran kini berubah menjadi kamar yang penuh emosi dan amarah. Aku masih belum paham apa aku salah bicara atau bagaimana. Iya, aku tahu kata-kataku tadi seperti sok menasehatinya, tapi aku mengatakan hal itu juga untuk kebaikan dia dan keluarganya bukan ada maksud apapun.
Kuraih gagang pintu, sejenak aku terdiam di sana. Sambil mengusap air mataku, aku menyempatkan diri menoleh kebelakang memastikan keadaannya benar-benar sudah baikan. Kulihat dia menatap jendela yang ada di sebelah kanannya. Beberapa detik aku menatapnya, berharap dia mau memalingkan wajahnya dan membalas tatapanku. Tapi, itu tidak mungkin akupun berlalu meninggalkan kamar itu.
Reza’s Part
Aku memarkirkan mobilku, mematikan mesinnya, dan mengambil buah-buahan yang kubeli di perjalanan tadi. Segera aku keluar, dan berjalan menuju meja resepsionis. Awalnya aku menelpon Dinda untuk bertanya dimana kamar Yoga di rawat, tetapi dia tidak mengangkatnya sama sekali jadi terpaksa aku harus bertanya dengan  perawat yang ada di meja resepsionis.
“Permisi, mbak mau nanya. Saya mau jenguk teman saya namanya Ananda Yoga Pratama Putra. Dia masuk rumah sakit ini tadi siang, kamarnya nomor berapa ya mbak?”
“Sebentar ya mas. Oh, kamarnya no 201 di lantai 2 ya mas. Kalau dari sini naik lift, keluar dari lift mas ambil jalan yang kekanan, kamarnya paling ujung sebelah kanan” mbak perawat itu menjelaskan detailnya padaku.
“Oke, terima kasih banyak ya mbak”
Kakiku mulai melangkah menuju lift, dan menekan tombol menuju lantai 2 sesuai petunjuk perawat tadi. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 06.00 pm. Apa aku menginap di sini aja ya nemeni si Yoga pikirku. Kasihan dia kalau di tinggal sendirian, mana mungkin si Dinda bisa menginap disini. Dengan penuh pertimbangan aku memutuskan untuk menginap di sini menemani Yoga. Lift terbuka dan aku melangkahkan kaki menuju kamar Yoga.
Tok..tok..tok “Yoga aku masuk ya,,” pintu ku ketuk dan minta izin dia untuk masuk kedalam
“Iya, masuk aja” Aku membuka pintu setelah mendapat izinnya, tapi situasi didalam mengejutkanku.
“Loh Ga, si Dinda mana? Bukannya dia yang ngantar kau kemari ya?” aku masuk ke kamarnya dengan penuh tanya.
“Dia pulang, ada urusan katanya” Jawabnya singkat
Kupandangi ekspresi sahabatku itu, dengan mudah ku tebak dia berbohong.
“Kau berbohongkan, pikiranmu berbicara lain padaku. Kau merasa bersalah, kau memakinya, dan kau mengusirnya kan? Itu semua karrna dia bertanya tentang ayah ibumu kan?” Aku menebak dan Yoga tertunduk pertanda tebakanku benar.
“Ya ampun, ayolah Yoga masa’ karena hal sepele gitu kau memarahi dia habis-habisan sih. Dia kan gak salah menanyakan tentang ayah ibumu, pertanda dia juga mengkhawatirkanmu dan kedua orang tuamu. Yah, walaupun dia tidak tahu bagaimana keadaan latar belakangmu yang sebenarnya.” Aku mencoba menasehatinya.
“Susah memang ya punya kawan yang bisa baca pikiran orang. Sedikitpun gak bisa berbohong. Tapi Za, dia menasehati aku menceramahi aku seolah-olah dia tau segalanya. Aku paling gak suka sama orang yang sok tahu sama kehidupan pribadiku.” Yoga mulai membela diri.
“Tapi Ga, diakan gak tahu sama sekali kan tentang latar belakangmu. Diakan,,,” belum selesai aku bicara dia memotong.
“Kalau memang gak tahu ya jangan sok tahu, sok-sok menasehati segala.”
“Ahh,, terserahmu Ga. Apa dia menangis sewaktu kau usir tadi?”
Yoga hanya terdiam dan mengalihkan tatapannya kembali kearah jendela. Kutangkap ekspresi penuh penyesalan dari wajahnya. Aku tau dia sangat menyesal berkata kasar ke Dinda. Karena aslinya Yoga bukan lah pemarah, apa lagi sama wanita dia luar biasa baik. Hanya hal tertentu yang membuat dia berubah kepribadian salah satunya tentang orang tuanya.
“hmm.. setelah masuk kampus nanti kau harus minta maaf sama dia. Oh iya, apa kata dokter? Apa Dokter sudah mengunjungimu?”
“Beberapa menit sebelum kau datang Dokternya datang kemari tadi. Katanya aku terkena Diare. Memang akhir-akhir ini perutku terasa aneh dan selalu kekamar mandi. Puncaknya tadi siang setelah makan soto. Salahku juga terlalu banyak sambal yang kutambahkan, terkahirnya pertuku semakin menjadi-jadi. Tapi kata dokternya besok aku udah boleh pulang kok” Jelasnya.
Handphone ku berdering, ku lihat panggilan dari Dinda. Perasaan resah menyelimutiku.
“Halo,, assalamualaikum Dinda, kenapa?” Tanyaku
“Za,, tolong za,, please cepet kemari Za,, rumah kami za,,” Suara kericuhan dan isak tangis Dinda terdengar jelas di seberang sana.
“Kenapa rumahmu Din?” Tutt....tutt...tutt.. Belum sempat aku bertanya dengan jelas suara Dinda menghilang.
“Ga, Dinda ga,,,”
To be Continued.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar