Chapter II
Can
you hear my voice?
Tiba-tiba
Dia bangkit mengambil sendok makanku, mengambil soto ayamku, dan menyeruputnya.
“hmm,,
enak... Dinda beli di kantin yang mana, aku maulah,,,,” wajahnya cukup dekat
denganku.
Aku
terdiam dan menatap wajahnya, sungguh demi Tuhan aku tidak tahu perasaan ini,
aku merasa sesak di dadaku, aku merasa jantungku mau lepas ketika melihat mata dan
bibirnya, bahkan ketika mendengar suaranya.
“Wooyy,,
Dinda aku rasa kau memang sedang di rasuki, kau tadi main kemana aja?” Reza
mencoba menyadarkanku dari lamunan singkatku
“ha?
Dirasuki? Apa kau bercanda? Aku orang paling taat beribadah di keluargaku ya,
jangan salah huuhh” keluh ku.
“Disana
aku pesannya, bilang aja soto ayam satu porsi, terserah kau mau pake nasi atau
tambah perkedel, bilang aja sama kakaknya, mereka ramah kok” terangku kepadanya
seraya mengambil sendokku dari genggamannya.
“okeoke,,”
sambil beranjak dia meletakkan tasnya diatas meja. Kulihat ada mainan tas
bertuliskan ‘Jambi’ salah satu kota besar yang ada di pulau Sumatera ini.
Oh
iya, apa aku sudah berkata pada kalian dimana aku kuliah? Yah aku kuliah di
salah satu universitas swasta yang cukup bagus di Padang. Aku asli dari
Pekanbaru, sebuah kota yang terkenal dengan perkebunan sawitnya. Bahkan semakin
terkenal setelah insiden kebakaran hutan sawit yang berhari-hari tak padam
juga. Berkat insiden itu, kota kelahiranku semakin mendunia.
Bukannya
aku tidak mau masuk sekolah negeri, aku sudah mencoba untuk masuk kedalam
kampus yang katanya biaya kuliahnya murah itu. Tapi, rezeki masih belum
berpihak kepadaku. Selain karena faktor rezeki tadi, faktor dari orang tua
juga. Yah, org tuaku melarang aku kuliah di tempat lain selain di Padang,
karena disana terdapat sanak saudaraku yang bisa menjagaku. Karena tidak bisa
masuk Universitas Negeri yang ada di Padang, yang Swasta pun tidak apalah, toh
pun sekolah Swasta sekarang sudah hampir sama derajatnya dengan sekolah Negeri
pikirku. Dan disinilah aku sekarang, berada di jurusan Teknik Informatika dan
duduk dikantin bersama dua orang teman baru yang konyolnya luar biasa.
Ah,
aku lupa memperkenalkan pada kalian. Seorang teman yang pertama kali kukenal
sebagai mahasiswa baru di jurusan ini, teman yang berjuang bersama-sama ketika
pedihnya PMB menyelimuti, hingga akhirnya Reza disini mengajak Dia duduk makan
siang bersamaku. Namanya Reza Aldiansyah Hasibuan memiliki wajah yang bisa
dibilang tampan, dengan kulit putih dan rambut hitam kelam yang juga menghiasi
kepalanya. Ciri khasnya yang selalu menggunakan headphone membuat dia gampang dikenali. Sedangkan Dia, orang yang
papasan denganku di persimpangan menuju toilet tadi. Orang yang membuatku
tercengang dengan senyuman dan lesung pipinya. Orang yang membuat waktu
disekitarku berhenti sejenak ketika menatap matanya. Orang yang membuat seluruh
tubuhku tertuju padanya. Namanya Ananda Yoga Pratama Putra, Tingginya sekitar
174 cm dengan tubuh yang bisa dibilang tidak kurus dan tidak gemuk, kurasa bisa
dikatakan tubuhnya ideal. Kulitnya putih, dengan sedikit bulu menghiasi
lengannya. Merekalah teman baruku, teman dekatku. Padahal baru sehari tapi
sudah mereasa kenal lama, sebab selama makan siang aku tak habis-habisnya
dibuat tertawa oleh tingkah mereka berdua yang konyolnya enggak habis-habis.
“Dinda,
kira-kira ada enggak maba seangkatan kita yang handsome menurutmu? Atau ada yang kamu pengen gebet gitu?” sebuah
pertanyaan bodoh terlontar kepadaku dari Yoga.
“hey, apa kau sudah gila? Baru beberapa hari juga kenal dengan mereka, uda main gebet-gebet aja” pungkasku.
“hey, apa kau sudah gila? Baru beberapa hari juga kenal dengan mereka, uda main gebet-gebet aja” pungkasku.
“eh, gak apa-apa loh Din, itung-itung
sambil menyelam minum air, yakan Za,,,hahaha” Yoga tertawa untuk yang kesekian
kalinya.
Sungguh aku gak bisa
melihat senyum dan tawanya, aku merasa seluruh tubuhku melemas. Ada apa ini
sebenarnya, kenapa perasaanku seperti ini ha? Tidak-tidak, aku pasti salahkan?
Iyakan? Apa aku sudah gila? Ayolah Dinda, bangun woyy banguun. Jangan menghayal.
Setelah makan siang aku, Reza, dan Yoga
berjalan kembali ke ruangan kelas untuk masuk ke jam kuliah berikutnya. Di persimpangan
antara jalan ke kelas dan ke toilet, Yoga tiba-tiba berubah haluan menuju
toilet. Melihat tempat ini tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi saat aku
bertemu dengannya. Suara Reza memecah lamunanku.
“ehh, kau, mau kemana?” kelas kita
selanjutnya kearah sana, bukan kearah toilet” Jelas Reza sambil menuju ruang
kelas yang paling ujung, dekat dengan pohon beringin tua yang rimbun dan hiasan
meja serta kursi batu dibawahnya. Sepertinya tempat itu memang di design menjadi tempat duduk dan
bersantai bagi mahasiswa sekitar sini.
“Iya sebentar, ada panggilan alam aku
gak kuaat,,,” Yoga mempercepat langkahnya.
“Sudahlah, biarkan mungkin dia gak tahan
dari tadi. Kita menunggunya atau duluan?” tanyaku
“Udah, tinggalin aja dia udah besar kok.
Kalo kamu mau disini dan nyebokin dia
gak masalah haha,,,” Reza mulai melawak.
Bodohnya aku bukannya tertawa malah
terdiam.
“Kau menyukainya kan? Saat dia tertawa
kau merasa jantungmu berhentikan? Kalian berpapasan di tempat ini kan? Dan kau
masih terus memikirkannya sampai sekarang” tiba-tiba Reza mengeluarkan kata
demi kata yang tidak ku mengerti dari mana dia tahu semua kata itu. Kata-kata
yang jika di gabungkan akan menjadi kalimat yang membuat otakku sulit mencerna dan memahaminya.
“Da..da...dari mana kau tahu ha? Ada-ada
aja, enggak mungkinlah aku berfikiran segitunya sama orang yang baru ku kenal,
apa lagi sampe jantungnya berhenti, lebay kau ah” aku mencoba berkilah.
“haha,,aku punya satu rahasia, dan hanya
kau yang akan ku beri tahu. Aku bisa baca pikiran orang loh” Reza berbisik.
“Ah,,, masa’?” aku mulai bertanya sok
penasaran.
“eh, beneran,, sumpah kagak bohong” dia
mencoba membuatku percaya.
“Bodoo....” teriakku sambil aku terus
berjalan meninggalkannya.
“eh, heyyy,,, dasar anak kurang ajar,,
heyyy” teriaknya sambil berlari mengejarku.
Sampai di kelas, aku mengambil bangku
lorong ketiga, barisan ke 3 dari pintu. Reza meletakkan buku di meja sebelah kananku,
dan tiba-tiba dia melemparkan tasnya di meja sebelah kiriku.
“rusuh kali ya Za, biar apa kayak gitu Za?”
keluhku kesal karena tas yang dilemparnya mengenai kepalaku.
“biar kau bisa dekat-dekat sama
Dia,,hihi” Reza mulai cekikikan.
“Jadi, kau meletakkan bukumu disini
sebagai tanda kalau bangku ini uda ada yang nempati? Dan yang nempati itu temen
kamu yang lagi mendapat panggilan alam?” aku mencoba memperjelas maksudnya
sambil mengeluarkan handphone dari
tas ranselku.
“nah kan, kamu memang suka dia kan?
Padahal yang ku maksud bukan teman kita yang sedang melapor di WC itu, tapi itu
si Rangga haha” balasnya sambil menunjuk teman kami Rangga yang asik tertawa
bersama teman-teman yang lain di belakang.
Aku memutar badanku kebelakang sambil
berfikir “Aiihh,, bodohnya aku. Apa aku
kentara kali ya kalau aku tertarik padanya?”
“iya, kau memang bodoh dan terlalu
kentara”. Jelas Reza sambil mengenakan headphone
yang dari tadi menggantung di lehernya dan mulai membaca novel yang
bercoverkan sebuah perahu di lepas pantai.
Brakkkk.... aku menapis novel yang
sedang dibacanya.
“apa sih..” teriaknya.
“tadi kau bilang apa ha? Bisa kau
ulangi?”
“IYA, KAU MEMANG BODOH DAN TERLALU
KENTARA. Masih kurang jelas? Bisa kutulis di kertas dan ku masukkan ke
telingamu” Reza kembali mengulangi kata-katanya tadi.
Aku tercengang, karena apa yang di
katakannya persis seperti yang aku pikirkan. Rasa penasaran menyelimutiku, aku
mencoba berkata dalam pikiranku sendiri.
“Apa
si bodoh ini benar-benar bisa membaca pikiran orang? Hey anak bodoh, kau
mendengarku?”
“iya, aku mendengarmu anak kurang ajar. Aku bisa membaca pikiran orang, kan aku sudah mengatakannya padamu, dan satu lagi aku bukan anak bodoh ya. Ingat baik-baik IQ ku 220 setara dengan IQ Leonardo da Vinci, jadi aku bukan si anak bodoh, paham?” dia mencoba merepet padaku.
“iya, aku mendengarmu anak kurang ajar. Aku bisa membaca pikiran orang, kan aku sudah mengatakannya padamu, dan satu lagi aku bukan anak bodoh ya. Ingat baik-baik IQ ku 220 setara dengan IQ Leonardo da Vinci, jadi aku bukan si anak bodoh, paham?” dia mencoba merepet padaku.
“haaa,,,” aku menutup mulutku dengan
ekspresi terkejut setengah mati.
“jadi, kau benar-benar bisa membaca
pikiran orang Za?” tanya ku kembali.
“apa perlu aku mengatakannya 1000 kali
padamu nona? Atau aku perlu mengejakan
hurufnya. Iya Dinda Nur Khasanah, A-K-U
B-I-S-A B-A-C-A P-I-K-I-R-A-N-M-U” dia mengejakan maksudnya
untukku seolah akulah si anak bodoh.
“Siaall”
Pikirku.
To
be Continued......................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar