Jumat, 29 Juli 2016

Love on Secret (Chapter II)


Chapter II
Can you hear my voice?

Tiba-tiba Dia bangkit mengambil sendok makanku, mengambil soto ayamku, dan menyeruputnya.
“hmm,, enak... Dinda beli di kantin yang mana, aku maulah,,,,” wajahnya cukup dekat denganku.
Aku terdiam dan menatap wajahnya, sungguh demi Tuhan aku tidak tahu perasaan ini, aku merasa sesak di dadaku, aku merasa jantungku mau lepas ketika melihat mata dan bibirnya, bahkan ketika mendengar suaranya.
“Wooyy,, Dinda aku rasa kau memang sedang di rasuki, kau tadi main kemana aja?” Reza mencoba menyadarkanku dari lamunan singkatku
“ha? Dirasuki? Apa kau bercanda? Aku orang paling taat beribadah di keluargaku ya, jangan salah huuhh” keluh ku.
“Disana aku pesannya, bilang aja soto ayam satu porsi, terserah kau mau pake nasi atau tambah perkedel, bilang aja sama kakaknya, mereka ramah kok” terangku kepadanya seraya mengambil sendokku dari genggamannya.
“okeoke,,” sambil beranjak dia meletakkan tasnya diatas meja. Kulihat ada mainan tas bertuliskan ‘Jambi’ salah satu kota besar yang ada di pulau Sumatera ini.
Oh iya, apa aku sudah berkata pada kalian dimana aku kuliah? Yah aku kuliah di salah satu universitas swasta yang cukup bagus di Padang. Aku asli dari Pekanbaru, sebuah kota yang terkenal dengan perkebunan sawitnya. Bahkan semakin terkenal setelah insiden kebakaran hutan sawit yang berhari-hari tak padam juga. Berkat insiden itu, kota kelahiranku semakin mendunia.
Bukannya aku tidak mau masuk sekolah negeri, aku sudah mencoba untuk masuk kedalam kampus yang katanya biaya kuliahnya murah itu. Tapi, rezeki masih belum berpihak kepadaku. Selain karena faktor rezeki tadi, faktor dari orang tua juga. Yah, org tuaku melarang aku kuliah di tempat lain selain di Padang, karena disana terdapat sanak saudaraku yang bisa menjagaku. Karena tidak bisa masuk Universitas Negeri yang ada di Padang, yang Swasta pun tidak apalah, toh pun sekolah Swasta sekarang sudah hampir sama derajatnya dengan sekolah Negeri pikirku. Dan disinilah aku sekarang, berada di jurusan Teknik Informatika dan duduk dikantin bersama dua orang teman baru yang konyolnya luar biasa.
Ah, aku lupa memperkenalkan pada kalian. Seorang teman yang pertama kali kukenal sebagai mahasiswa baru di jurusan ini, teman yang berjuang bersama-sama ketika pedihnya PMB menyelimuti, hingga akhirnya Reza disini mengajak Dia duduk makan siang bersamaku. Namanya Reza Aldiansyah Hasibuan memiliki wajah yang bisa dibilang tampan, dengan kulit putih dan rambut hitam kelam yang juga menghiasi kepalanya. Ciri khasnya yang selalu menggunakan headphone membuat dia gampang dikenali. Sedangkan Dia, orang yang papasan denganku di persimpangan menuju toilet tadi. Orang yang membuatku tercengang dengan senyuman dan lesung pipinya. Orang yang membuat waktu disekitarku berhenti sejenak ketika menatap matanya. Orang yang membuat seluruh tubuhku tertuju padanya. Namanya Ananda Yoga Pratama Putra, Tingginya sekitar 174 cm dengan tubuh yang bisa dibilang tidak kurus dan tidak gemuk, kurasa bisa dikatakan tubuhnya ideal. Kulitnya putih, dengan sedikit bulu menghiasi lengannya. Merekalah teman baruku, teman dekatku. Padahal baru sehari tapi sudah mereasa kenal lama, sebab selama makan siang aku tak habis-habisnya dibuat tertawa oleh tingkah mereka berdua yang konyolnya enggak habis-habis.
“Dinda, kira-kira ada enggak maba seangkatan kita yang handsome menurutmu? Atau ada yang kamu pengen gebet gitu?” sebuah pertanyaan bodoh terlontar kepadaku dari Yoga.
“hey, apa kau sudah gila? Baru beberapa hari juga kenal dengan mereka, uda main gebet-gebet aja” pungkasku.
“eh, gak apa-apa loh Din, itung-itung sambil menyelam minum air, yakan Za,,,hahaha” Yoga tertawa untuk yang kesekian kalinya.
Sungguh aku gak bisa melihat senyum dan tawanya, aku merasa seluruh tubuhku melemas. Ada apa ini sebenarnya, kenapa perasaanku seperti ini ha? Tidak-tidak, aku pasti salahkan? Iyakan? Apa aku sudah gila? Ayolah Dinda, bangun woyy banguun. Jangan menghayal.

Setelah makan siang aku, Reza, dan Yoga berjalan kembali ke ruangan kelas untuk masuk ke jam kuliah berikutnya. Di persimpangan antara jalan ke kelas dan ke toilet, Yoga tiba-tiba berubah haluan menuju toilet. Melihat tempat ini tiba-tiba aku teringat kejadian tadi pagi saat aku bertemu dengannya. Suara Reza memecah lamunanku.

“ehh, kau, mau kemana?” kelas kita selanjutnya kearah sana, bukan kearah toilet” Jelas Reza sambil menuju ruang kelas yang paling ujung, dekat dengan pohon beringin tua yang rimbun dan hiasan meja serta kursi batu dibawahnya. Sepertinya tempat itu memang di design menjadi tempat duduk dan bersantai bagi mahasiswa sekitar sini.
“Iya sebentar, ada panggilan alam aku gak kuaat,,,” Yoga mempercepat langkahnya.
“Sudahlah, biarkan mungkin dia gak tahan dari tadi. Kita menunggunya atau duluan?” tanyaku
“Udah, tinggalin aja dia udah besar kok. Kalo kamu mau disini dan nyebokin dia gak masalah haha,,,” Reza mulai melawak.
Bodohnya aku bukannya tertawa malah terdiam.
“Kau menyukainya kan? Saat dia tertawa kau merasa jantungmu berhentikan? Kalian berpapasan di tempat ini kan? Dan kau masih terus memikirkannya sampai sekarang” tiba-tiba Reza mengeluarkan kata demi kata yang tidak ku mengerti dari mana dia tahu semua kata itu. Kata-kata yang jika di gabungkan akan menjadi kalimat yang membuat otakku sulit  mencerna dan memahaminya.
“Da..da...dari mana kau tahu ha? Ada-ada aja, enggak mungkinlah aku berfikiran segitunya sama orang yang baru ku kenal, apa lagi sampe jantungnya berhenti, lebay kau ah” aku mencoba berkilah.
“haha,,aku punya satu rahasia, dan hanya kau yang akan ku beri tahu. Aku bisa baca pikiran orang loh” Reza berbisik.
“Ah,,, masa’?” aku mulai bertanya sok penasaran.
“eh, beneran,, sumpah kagak bohong” dia mencoba membuatku percaya.
“Bodoo....” teriakku sambil aku terus berjalan meninggalkannya.
“eh, heyyy,,, dasar anak kurang ajar,, heyyy” teriaknya sambil berlari mengejarku.

Sampai di kelas, aku mengambil bangku lorong ketiga, barisan ke 3 dari pintu. Reza meletakkan buku di meja sebelah kananku, dan tiba-tiba dia melemparkan tasnya di meja sebelah kiriku.
“rusuh kali ya Za, biar apa kayak gitu Za?” keluhku kesal karena tas yang dilemparnya mengenai kepalaku.
“biar kau bisa dekat-dekat sama Dia,,hihi” Reza mulai cekikikan.
“Jadi, kau meletakkan bukumu disini sebagai tanda kalau bangku ini uda ada yang nempati? Dan yang nempati itu temen kamu yang lagi mendapat panggilan alam?” aku mencoba memperjelas maksudnya sambil mengeluarkan handphone dari tas ranselku.
“nah kan, kamu memang suka dia kan? Padahal yang ku maksud bukan teman kita yang sedang melapor di WC itu, tapi itu si Rangga haha” balasnya sambil menunjuk teman kami Rangga yang asik tertawa bersama teman-teman yang lain di belakang.

Aku memutar badanku kebelakang sambil berfikir “Aiihh,, bodohnya aku. Apa aku kentara kali ya kalau aku tertarik padanya?”
“iya, kau memang bodoh dan terlalu kentara”. Jelas Reza sambil mengenakan headphone yang dari tadi menggantung di lehernya dan mulai membaca novel yang bercoverkan sebuah perahu di lepas pantai.

Brakkkk.... aku menapis novel yang sedang dibacanya.
“apa sih..” teriaknya.
“tadi kau bilang apa ha? Bisa kau ulangi?”
“IYA, KAU MEMANG BODOH DAN TERLALU KENTARA. Masih kurang jelas? Bisa kutulis di kertas dan ku masukkan ke telingamu” Reza kembali mengulangi kata-katanya tadi.

Aku tercengang, karena apa yang di katakannya persis seperti yang aku pikirkan. Rasa penasaran menyelimutiku, aku mencoba berkata dalam pikiranku sendiri.
“Apa si bodoh ini benar-benar bisa membaca pikiran orang? Hey anak bodoh, kau mendengarku?”
“iya, aku mendengarmu anak kurang ajar. Aku bisa membaca pikiran orang, kan aku sudah mengatakannya padamu, dan satu lagi aku bukan anak bodoh ya. Ingat baik-baik IQ ku 220 setara dengan IQ Leonardo da Vinci, jadi aku bukan si anak bodoh, paham?” dia mencoba merepet padaku.
“haaa,,,” aku menutup mulutku dengan ekspresi terkejut setengah mati.
“jadi, kau benar-benar bisa membaca pikiran orang Za?” tanya ku kembali.
“apa perlu aku mengatakannya 1000 kali padamu nona?  Atau aku perlu mengejakan hurufnya. Iya Dinda Nur Khasanah, A-K-U   B-I-S-A   B-A-C-A   P-I-K-I-R-A-N-M-U” dia mengejakan maksudnya untukku seolah akulah si anak bodoh.
“Siaall” Pikirku.
To be Continued......................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar