Jumat, 26 Juli 2013

Cerpen

ISI HATIKU

“Aku….. Menyukaimu”
“KKYYYAAAAAAAA,,,,,,, Kenapa tiba – tiba ngomong begitu.???”, teriak semua penghuni kelas XII IPA 2 di SMA Nusantara Indah saat seorang siswa baru hadir dikelas mereka dan menunjuk kearah seorang gadis yang tepat duduk didepan meja guru sambil mengatakan 2 kata tersebut.
               “Hey, Yuji kenapa tiba-tiba ngomong begitu???”, Tanya bu guru Oni kepadanya. “Iya bu, saya menyukainya”, dengan gampangnya dia menjawab seperti itu didepan semua teman barunya yang masih syok. “yah, setidaknya perkenalkan dulu namamu pada teman barumu Yuji, kamu ini ada-ada saja” bu Oni mulai ceramah kepadanya. “Oh baik bu, ehem..ehemm… Perkenalkan teman-teman, nama saya Rio Ananda Yuji Kobayashi. Kalian bisa memanggilku Rio, atau Nanda, atau Yuji, tapi saya biasa dipanggil Yuji. Saya memiliki keturunan Jepang-Indo makanya saya memiliki marga Kobayashi. Saya pindahan dari SMA Mitsuzawa Jepang. Saya pindah kemari karena pekerjaan ayah saya yang mengharuskan beliau berpindah kemari. Mungkin cukup segini saja perkenalan dari saya. Semuanya salam kenal”, Yuji pun mengakhiri perkenalannya dengan sebuah senyuman.
              Semua mata siswa memandangnya, seolah takjub dan terheran-heran dengan dirinya, terutama para gadis yang sepertinya mulai terhanyut dengan penampilannya yang sangat keren dan memukau mereka. “ya baiklah, itulah tadi sekelumit perkenalan dari teman kalian Yuji. Yuji, itu ketua kelas kita, namanya Rizal, dan itu sekertaris kita namanya Bunga, dan ini bendahara kita namanya Risa. Silahkan Yuji duduk dibangku yang kosong sebelah sana,” setelah selesai mengenalkan semua perangkat kelas Bu Oni pun menunjukkan bangku yang kosong dilorong keempat dari pintu, nomor 3 dari depan.
              Akan tetapi, Yuji bukannya berjalan kebangkunya malah kembali membuka mulut. “maaf bu, sebentar ada yang ingin saya sampaikan. "Ya, Risa”, Yuji menggumam dan melihat kearah Risa dan semua mata tertuju pada Risa, kemudian beralih ke Yuji ketika dia kembali membuka mulut dan berkata, “Risa, Aku menyukaimu”. “AAAPPPAAAAA????? Dia mulai lagiiii…???” semua warga XII IPA 2 kembali histeris dibuatnya. 
Risa pun sebagai orang yang bersangkutan merasa sangat syok, panik, terkejut, dan hanya bisa menganga melihat perkataan Yuji kepadanya. Dan dia pun angkat bicara, “Bu, sepertinya anak ini perlu direhabilitasi” tukas Risa.
“BBBwwwwaaahhahahahah…..”, sontak semua warga kelas tertawa terbahak – bahak mendengar perkataan Risa. “Iya, setelah melihatmu memang aku merasa perlu direhabilitasi, tetapi direhabilitasi didalam hatimu”, sambil mengedipkan mata kepada Risa, Yuji pun dengan santai berjalan menuju bangkunya. “gggyyyyyyaaaaa,,,,!!!!!” sontak semua warga kelas berteriak.
“sudah - sudah, mari kita lanjutkan pelajaran kita yaitu Integral  Trigonometri. Baiklah, kita mulai saja dengan sebuah soal”. Bu Oni pun menuliskan soal yang ia maksud kepapan tulis, sementara itu suasana dibangku sudah seperti kuburan, semua siswa sudah tertunduk dan terdiam tanpa kata. “Baiklah, ada yang bisa mengerjakannya?? Emmm, bagaimana denganmu Yuji, apa model soal seperti ini sudah pernah dipelajari disekolahmu????”, “Eh, saya lupa bu, tapi Akan saya coba", Yuji terkaget dari lamunannya akan Risa, karena sedari tadi ia hanya memandangi Risa tak henti-henti.
Tag..teg…tigg….. suara kapur papan tulis bergerak dengan sangat gesit ditangan Yuji. Seolah ada roh yang merasuki kapur tesebut sehingga ia bisa bergerak dengan begitu gesit tanpa henti, hingga akhirnya “selesai bu, apakah jawabanku benar”, “Yah, itu benar. Bahkan sangat rinci sekali”. “WWWOOOOOWWWWWW”, gumam semua siswa yang kembali terbangun dari tidurnya dan menatap Yuji terheran – heran. Dan Yuji kembali tersenyum dan berkedip kepada Risa, Risa hanya menggelengkan kepala. “apa saya boleh kembali duduk bu??”, “oh ya, tentu saja. Silahkan kembali kekursimu” bu Oni terlepas dari lamunannya akan jawaban Yuji, dari soal yang diberikannya.
Rio Ananda Yuji Kobayashi, adalah anak berdarah Jepang – Indo. Ia sering kali berpindah – pindah sekolah. Hal ini disebabkan oleh bisnis ayahnya yang selalu berpindah – pindah kota. Dia merupakan anak yang memiliki fisik yang cukup WOW dimata para kaum Hawa. Namun walaupun begitu ia jarang sekali terlalu peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ia lebih sering untuk menjaga jarak dengan orang disekelilingnya. Karena dia selalu befikir bahwa “semua itu hanya sementara, tohpun aku akan meninggalkan mereka semua”, seperti itulah pemikiran anak berumur 17 tahun itu. Dan ia tidak ingin membuat ikatan apapun dengan orang sekelilingnya, karena itu akan melukainya jika mereka harus berpisah nanti.
Dalam waktu dua hari, Yuji sudah terkenal disekolahnya. Terutama dikalangan para cewek-cewek. Ditambah lagi dia masuk keklub Basket dan Taekwondo, dan kemampuannya sangat dipuji didalam klub – klub tersebut. Dimana-mana topiknya selalu Yuji, Yuji, dan Yuji. Tapi, Yuji tidak ambil perduli soal cewek – cewek yang mendekatinya. Walaupun tak sedikit pula diantara mereka yang memberikan bunga, coklat, maupun 
bekal makan siang kepada Yuji. Tapi bukan Yuji yang menyenggolnya, malahan teman – teman cowok satu kelasnya yang menghabiskan semua itu. Yuji hanya mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kepada cewek – cewek itu.
Namun sebaliknya, Yuji hanya mau perduli dan memperhatikan Risa seorang. “Yuji, apa benar kamu memang menyukai Risa??” Tanya Rizal yang selalu ingin tahu, karena kepo adalah sifat alamiahnya. Begitu teman – teman sekelasnya mengejek ketua kelas mereka. “ya, tentu saja. Apa aku terlihat berbohong???”, “ya enggak sih. Tapi aku heran saja masak tiba – tiba kamu menyukainya, kamu kan baru mengenalnya”. Tanpa membalas argument Rizal, Yuji hanya tersenyum.
Hampir setiap waktu saat disekolah Yuji selalu memperhatikan Risa, bahkan tak jarang Yuji selalu bermain mata kepada Risa. Lama – kelamaan Risa pun merasa risih dengan sikap Yuji itu. Sampai suatu ketika, Risa menghampiri Yuji yang sedang duduk sendirian dibawah pohon besar dibelakang sekolah.
Ketika itu, Yuji sedang duduk sambil mendengarkan music dari mp3nya sembari memegang sebuah buku bersampulkan warna biru, bertuliskan "Immortal Heart". Buku itu adalah novel yang selalu ia baca dan is bawa kemanapun dia pergi. Ada banyak sekali seri dari novel tersebut, dan Yuji mengoleksinya dari seri pertama sampai terakhir.
 Yuji yang sedang menikmati suasana hening itu tiba – tiba dikagetkan oleh kehadiran Risa. “apa maksud sikapmu ini??”, Risa mulai angkat bicara dengan nada tinggi, seola – olah membentak Yuji. Yuji hanya tersenyum sambil menatap Risa. Melihat senyuman manis Yuji, wajah Risa memerah, dan jantung berdetak kencang, sembari ia menggumam dalam hati “ya ampun, gak salah, memang manis ini cowok. Senyumnya…. Aduh gak boleh – gak boleh. Tujuanku kan untuk memarahi dia, tapi kenapa aku jadi jantungan gini sih.”. Ditengah gumamannya itu, tiba – tiba Risa dikagetkan oleh omongan Yuji “kalau memang begitu kenapa enggak jadian sama aku aja”, sambil tersenyum. “Apa?? Apa kamu bilang barusan??” Risa pun bertanya – Tanya kepada Yuji. “Iya, kamu kemari karena mau memarahiku atas sikapku kan?? Tapi setelah melihatku lebih dekat kamu jandi deg – degan gimana gtu, iyakan?? Hayoo ngaku”. “eemmm,,, dari mana kamu tau kalau aku deg – degan liat kamu”, wajah Risa yang putih semakin memerah akibat perkataan Yuji. “Pikiranmu kebaca tadi”, sambil mengedipkan mata Yuji kembali membaca novel yang sedari tadi ia pegang.
Risa pun terheran, tediam, dan berdiri kaku dihadapan Yuji yang sedang duduk santai dibawah pohon yang besar dengan suasana yang sejuk itu. Melihat Risa yang begitu heran, Yujipun menarik tangan Risa dan menyuruhnya untuk duduk disebelahnya. Jantung Risapun semakin berdetak begitu kencangnya, saat tangan hangat Yuji memegang pergelangan tangannya. Sejenak suasana hening, sunyi, hanya hembusan angin yang terdengar, sampai Risa angkat bicara “Jadi, kamu bisa membaca pikiran orang lain???”. “hhmmm,, kira – kira begitu. Kenapa?? Kamu takut kalau fikiranmu kubaca??”. “eng…enggak sih. Heran aja”. “oooo,, jadi mana. Katanya tadi mau memarahiku, kenapa enggak jadi??”. “eh… anu enggak jadi deh, lupa aku jadinya apa aja makianku buat kamu”. “o, bagus lah kalau gitu. Eh besok datang ya ke GOR sekolah kita”. “Ada apa rupanya??” “Besok aku ada seleksi untuk pertandingan Taekwondo tingkat nasional”, “oh, untuk PON ya???”. “hhmm, iya. Datang ya”. “oh, iya besok aku pasti datang”. “okeh, aku duluan ya. Ada urusan. Besok kutunggu ya, pukul 3 sore,,, ddaadaaa”. “eh, iya. Dadaaa”.
Yuji pun berlalu sambil melambaikan tangan meninggalkan Risa ditengah keheningan. Tiba – tiba Risa bergumam, “kenapa aku jadi akrab sama dia ya?? Ngomong sama dia pun enggak canggung, seolah – olah udah kenal deket. Tapi perasaan apa tadi itu, jangan – jangan aku menyukainya?? Ah tidak – tidak, itu cuma perasaanku aja, besok juga sudah ilang. Tapi apa yang kupikirkan tadi, kenapa kuiyakan saja untuk menonton pertandingannya??? Padahalkan aku ada pertunjukan musik. Aaahhh bodoh,,bodoh,,,bodoh”.
Dan hari itu pun tiba. Hari dimana Yuji ikut seleksi Taekwondo untuk kejuaraan PON nanti. Selama proses seleksi, saat istirahat Yuji kerap sekali memikirkan Risa dan melihat-lihat kearah bangku penonton. Namun, sampai akhir pertandingan pun Risa tidak muncul. 
Sementara itu, "aiisshhh, angkotnya lama kali, bang agak cepetan lah udah telat ini". Risa baru saja selesai dari pertunjukan musik bersama grup musik di sekolahnya. Dalam grup musik itu, Risa berperan sebagai pemain biola, teman-temannya ada yang berperan sebagai pemain drum, gitar, saksopon, vokalis, dan bass. Dan setelah pertunjukan musik itu, Risa sebenarnya langsung menuju ke GOR. "Pak cepetan nyetirnya". "Iya, sabar neng ini juga udah cepet". Supir angkotnya pun berusaha untuk secepatnya sampai ditujuan. 
Tap....tap...tap... Risa pun berlari ke tempat seleksi itu berlangsung dan di ujung lorong sudah ada Yuji duduk dengan seragam taekwondonya sambil menenggak minuman ditangannya. "Ya ampuun, makin keren aja dia pake seragam itu. Aduuh g kuat juga lama-lama", gumam Risa dalam hati.  "Heeiii gimana seleksinya??" Teriak Risa sambil melambaikan tangan dan berlari kearah Yuji. "Heh kemana aja?? Kenapa baru datang??" "Hheehee maaf ya, tadi pergi ngantar mama dulu". "Gak, kamu bohong kamu dri pertunjukan musikkan?? Kamu g bisa bohong hahahaha". "Oh iya aku lupa hahaha. Iya, q baru selesai dari pertunjukkan musik". "Waduuh gawat, jantungku mau copot rasanya. Semakin dilihat dari dekat semakin keren aja ini anak. Adek gak kuat mamaaaa", Seru Risa dalam hati. "Yuk, kerumah sakit". "Loh kenapa?? Kamu cedera??". "Enggak ah, aku gak kenapa-kenapa kok. Tapi tadi katamu jantungnya mau copot karena liat aku, kan bahaya itu kalau jantungnya copot hahahha". "Aarrggghh siaall aku lupa lagii" teriak Risa karena kesal dengan ejekan Yuji.
"Jadi, gimana hasilnya?? Lolos seleksi??". "Iya, alhamdulillah aku lolos kok haha". "Ooh baguslah". "Jalan-jalan yuk, kan ad bazar dekat sini". "Iya, dan karena bazar itulah aku terkena macet", jawab Risa. "Aku bawa motor kok, kesana kita??". "Terserah deeh"
Dan mereka pun memutuslan untuk pergi berdua ke bazar tersebut. Yuji pun lngsung ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sementara Risa, menunggu dilorong tempat Yuji duduk tadi. 
BERSAMBUNG....